Sabtu, 09 November 2024

 

Viralnya Basreng Setelah Korona: Fenomena Kuliner Nasional

Paska pandemi korona, dunia kuliner Indonesia menyaksikan lahirnya fenomena baru yang bernama basreng. Camilan ini, yang terbuat dari bakso goreng dengan berbagai varian rasa, telah berhasil menempati hati masyarakat dengan cepat. Berikut adalah cerita menarik tentang bagaimana basreng menjadi viral setelah korona.

Asal Muasal Basreng

Basreng sebenarnya bukanlah barang baru di Indonesia. Namun, popularitasnya meningkat drastis setelah korona. Menurut beberapa sumber, basreng pertama kali muncul pada tahun 1997 di Desa Gandasoli, Purwakarta. Bapak Haji Ujang, seorang pembuat bakso ikan, secara tidak sengaja menciptakan basreng dari bahan sisa baksonya yang digoreng. Distribusi awalnya dilakukan melalui kenalan di Jakarta, dan akhirnya, basreng menjadi hits di ibu kota.

Naik Daunnya Basreng Pasca-Korona

Namun, momentum viralnya basreng benar-benar tercapai setelah korona. Pandemi ini membuat banyak orang lebih banyak berlama-lama di rumah, mencari alternatif hobi baru, dan tentu saja, mencari makanan yang lezat dan mudah didapatkan. Basreng, dengan rasa yang variatif dan harga yang terjangkau, menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut.

Contoh Kasus Succesful Basreng

Salah satu contoh kasus sukses basreng pasca-korona adalah dari Rena Regina, pemilik usaha Basreng Maminom di Bojonggede, Bogor. Meskipun usahanya terganggu oleh pandemi, Rena tetap gigih dan berhasil bangkit dengan bantuan dari teman yang memiliki usaha es teh. Inspirasi dari teman tersebut membuat Rena menciptakan basreng seharga Rp 5.000, yang kemudian sukses dijual di tempat usaha es teh milik rekan Rena. Dengan demikian, Rena berhasil meningkatkan omzetenya dari Rp 300 ribu per hari menjadi Rp 18 juta-Rp 22 juta per minggunya.

Kontroversi dan Persaingan

Walaupun sukses, Rena juga menghadapi tantangan dalam berbisnis. Peserta lain yang meniru ide Rena membuat persaingan semakin ketat. Namun, Rena percaya bahwa rasa basrenya yang enak akan membuat konsumennya loyal. Belum lagi, Rena juga mendapatkan dukungan dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp 50 juta pada tahun 2021, yang membantu meningkatkan skala produksinya.

Basreng di Era Digital

Di era digital, basreng juga menjadi viral melalui platform-platform media sosial seperti TikTok dan Instagram. Nadin, pemilik merek Raja Ngemil, misalnya, berhasil menjual basreng sebanyak 1 ton per haridan mengumpulkan 1.600 pesanan setiap hari. Semua ini terjadi setelah videonya tentang proses membuat basreng viral di TikTok. Dengan strategi marketing yang efektif, Nadin berhasil meningkatkan omzetenya dari Rp 300 juta per bulan menjadi Rp 600 juta per bulan.

Kontribusi Ekonomi Lokal

Popularity basreng tidak hanya memberikan manfaat kepada individu-individu yang berjualan tapi juga memberikan kontribusi ekonomi lokal. Banyak reseller yang membantu menyebarluaskannya ke berbagai wilayah, serta toko-toko yang menjualnya secara massal. Ini menunjukkan betapa pentingnya basreng dalam meningkatkan aktivitas ekonomi mikro dan menengah di Indonesia.

https://finance.detik.com/solusiukm/d-5679604/basreng-viral-di-tiktok-hingga-tembus-taiwan-nadin-kantongi-rp-600-juta



0 komentar:

Posting Komentar

Statistik

Cari Blog Ini

SELAMAT DATANG DI BASRENG VIRAL

Popular Posts

Blog Archive